RS. TELOGOREJO
Karsa dan Karya Demi Kemanusiaan
HOME       |      HELPDESK        |        EMAIL      |        FILE SHARE      |        CONTACT
HOTLINE SERVICE 24 JAM  : 081 6666 340
PANDUAN ADMISI RAWAT INAP
DAFTAR TARIP

Copyright IT Dept. RS. Telogorejo. All rights reserved.
KEPATUHAN MENGGUNAKAN OBAT PADA PASIEN USIA LANJUT



    Paguyuban Lansia Bugar RS Telogorejo kembali mengadakan kegiatan ceramah kesehatan. Ceramah kali ini mengambil tema Kepatuhan Pennggunaan Obat pada Pasien Usia Lanjut. Pembicara pada acara  tersebut adalah ibu Lusia Rubi Astuti, Ssi, Apoteker.  Memulai ceramahnya Lusia memberi pengertian tentang usia lanjut. Menurutnya, dengan mengambil batasan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), yang termasuk lanjut usia adalah seseorang yang berusia  65 tahun atau lebih. Pada usia lanjut akan terjadi beberapa hal seperti penurunan fungsi berbagai organ tubuh (ADME), terkadang dijumpai lebih dari 1 jenis penyakit dan tidak menutup kemungkinan perlu meminum lebih dari satu macam obat. Pada usia lanjut selain rentan terhadap efek samping obat, juga dikarenakan pengunaan obat - obatan tradisional yang terkadang tidak diketahui kandungan di dalamnya.        
    "Bagaimana cara minum obat ?", tanya Ibu Lusia di tengah - tengah ceramahnya. Apakah obat boleh diminum kapan saja, apakah selalu diminum sebelum makan atau sesudah makan ? Atau bahkan diminum bersama dengan makan ? Kalau diminum sebelum makan bagamanakah  efek ke lambungnya ?       
    Lusia berusaha memberikan gambaran tentang beberapa pandangan masyarakat yang kurang benar tentang pengonsumsian obat.  Ia mengatakan bahwa tidak selalu obat itu diminum setelah makan. Obat yang diminum setelah makan adalah obat - obatan yang dapat melukai lambung. Sedangkan obat yang harus diminum sebelum makan antara lain dimaksudkan agar efek obat tidak terganggu penyerapannya.                                       
    Jadi cara minum obat jangan dianggap sepele. Bila diminum sembarangan selain dapat mendatangkan gangguan pada tubuh, juga bisa berakibat ketidakefektian kerja obat yang diminum. Untuk itu, anjur Lusia, sebelum meminum obat harus membaca aturan pakai dengan sesama. Kalau aturannya dikatakan "diminum sebelum makan" maka artinya obat diminum saat perut kosong kira - kira setengah sampai satu jam sebelum makan. Sebaliknya.  Sebaliknya kalau tertulis diminum sesudah makan, artinya diminum saat lambung terisi makanan (selesai makan sampai ½ jam sesudah makan)                               
    "Mabokkah seseorang yang meminum obat dengan softdrink ?" Menurut Lusia, tergantung obat apa yang dikonsumsi dan bagaimana keadaan tubuh seseorang . Reaksi obat pada orang yang satu dengan orang yang lain bisa berbeda. Maka minum obat paling baik dengan air putih. Lantas bagaimana apabila seseorang minum vitamin C, apakah perutnya tidak sakit ? Menurut Lusia seseorang bisa mengalami sakit pada perutnya bisa juga tidak. Dapat merasa sakit karena vitamin C bisa melukai lambung, maka jangan mengonsumsi vitamin C saat perut kosong. Namun saat ini karena perkembangan di dunia kefarmasian ada vitamin C yang tidak mengiritasi lambung, karena kandungan vitamin C sudah diesteifikasikan,    
    Obat pusing, menurut Lusia, dapat diminum saat perut kosong, khususnya untuk parasetamol atau metampiron. Pasalnya apabila diminum setelah makan penyerapannya akan mengalami keterhambatan  dengan adanya makanan dalam lambung. Jadi dianjurkan untuk minum obat ini saat perut kosong agar didapat efek yang cepat.                                           
    Masih menurut Lusia, bahwa sebaiknya minum obat jangan bersama dengan minum susu, karena susu tersusun atas materi yang cukup kompleks, yang salah satunya adalah kalsium. Beberapa obat diketahui bereaksi dengan kalsium susu sehingga dapat menghambat penyerapannya misalnya tetrasiklin. Bila penyerapannya terhambat, obat tidak dapat memberikan efek yang diharapkan.        Waktu minum obatpun ada aturannya. Maksudnya, antibiotik jarak pemakaiannya harus tepat antara dosis pertama dengan dosis berikutnya. misalkan aturan pakai yang ditetapkan adalah 3 x sehari, maka obat diminum setiap 8 jam (24 : 3 = 8). Demikian juga bila aturannya 2 x sehari berarti diminum setiap 12 jam sekali, dan seterusnya.                              
    Selanjutnya Lusia memberi masukan agar pasien senantiasa kritis dan proaktif terhadap segala tindak pengobatan yang didapatkan. Jangan pernah ragu untuk bertanya kepada  Apoteker atau Dokter tentang obat yang akan atau sedang dikonsumsi.                                  Beberapa contoh menurut Lusia penyebab ketidakpatuhan minum obat yang terjadi pada lanjut usia. Seorang lanjut usia sering mengalami kelupaan tentang frekwensi, berapa lama obat harus diminum . Seringkali tidak disiplin meminum antibiotika, maksudnya apabila badan sudah terasa enak maka antibiotika ditinggalkan. Untuk seseorang yang tremor dan gangguan visual maka saat minum perlu dibantu, khususnya untuk pemakaian obat cairan yang ditakar. Demikian juga untuk pasien usia lanjut dengan katarak/ gangguan visual maka etiket/ label obat dibuat lebih besar agar mudah dibaca                                
    Menutup ceramahnya Lusia memberikan tip  untuk para lansia, khususnya tentang minum obat, antara lain : (1) Pastikan pengobatan dengan obat diperlukan, (2)  Jika mungkin, hindari penggunaan banyak obat pada satu waktu , (3) Semua wadah obat diberi etiket dengan huruf besar dan mudah dibaca , (4) Jangan mengambil obat dalam gelap , dan (5) Penggunaan obat oleh lansia memerlukan pengawasan. Tip - tip ini diharapkan bisa disebarluaskan kepada para lansia lain sehingga  dengan pengetahuan yang benar tentang obat bisa menekan dampak buruk akibat kekeliruan di dalam mengonsumsi obat.